SNI 03-3426-1994 – Tata Cara Survai Kerataan Permukaan Perkerasan Jalan dengan Alat Ukur Kerataan NAASRA

sni 03 3426 1994 – tata cara survai kerataan permukaan perkerasan jalan dengan alat ukur kerataan naasra

Standar lapangan untuk memperoleh data kerataan yang seragam—melalui kalibrasi terhadap IRI dan survei berkecepatan terkendali—sebagai dasar program pemeliharaan dan pembinaan jaringan jalan.

 

A. Pendahuluan Teknis

1. Latar pentingnya “kerataan”

  1. Kerataan permukaan perkerasan adalah salah satu indikator paling langsung terhadap:
  2. Kenyamanan berkendara (ride quality).
  3. Keselamatan (terutama pada kecepatan tinggi).
  4. Dampak dinamis beban kendaraan (dynamic loading) yang mempercepat kerusakan struktural.
  5. Efektivitas pemeliharaan (apakah overlay/rehabilitasi benar-benar meningkatkan kualitas layanan).

SNI 03-3426-1994 disusun sebagai acuan bagi petugas survei agar pelaksanaan pengukuran kerataan menghasilkan keseragaman nilai kerataan untuk dipakai sebagai masukan rencana dan program pembinaan jaringan jalan.

2. Ruang lingkup standar

Standar ini menegaskan survei kerataan dengan NAASRA hanya dilakukan pada:

  1. Jalan beraspal dan jalan beton semen.
  2. Dengan kondisi rusak ringan (tidak berlubang), baik, dan baik sekali.

Catatan teknis: pembatasan “tidak berlubang” penting karena lubang (potholes) akan memicu respons ekstrem alat/vehicle, membuat data kerataan tidak representatif (lebih cocok dinilai sebagai distressstruktural/permukaan, bukan roughness reguler).

3. Status dokumen

Di portal NSPK Direktorat Jenderal Bina Marga, SNI 03-3426-1994 tercantum dengan status dokumen: Berlaku.

—

B. Istilah dan Singkatan Penting

(ditulis lengkap dahulu, lalu penjelasan singkat)

1. SNI (Standar Nasional Indonesia): standar nasional sebagai acuan teknis.

2. NAASRA (National Association of Australian State Road Authorities): organisasi jalan Australia yang mengembangkan konsep alat roughness meter yang digunakan dalam standar ini. (Dalam dokumen disebut “naasra”).

3. Roughometer NAASRA (Alat Ukur Kerataan NAASRA): alat untuk mengukur kerataan permukaan perkerasan jalan yang dibuat oleh NAASRA.

4. IRI (International Roughness Index / Indeks Ketidakrataan Internasional): indeks ketidakrataan yang menjadi referensi umum secara internasional untuk menyatakan roughness (umumnya satuan m/km). SNI mensyaratkan pembuatan korelasi NAASRA terhadap IRI sebelum survei.

5. SP (Seksi Percobaan): segmen uji untuk kalibrasi/korelasi alat dan kendaraan terhadap IRI.

6. Dipstick Floor Profiler: alat untuk mengukur perbedaan elevasi (profil memanjang) sebagai dasar perhitungan IRI pada SP.

7. Odometer: alat ukur jarak tempuh pada kendaraan; dibedakan menjadi odometer halus (ketelitian puluhan meter/satuan meter) dan odometer kasar (ketelitian ratusan meter).

8. psi (pounds per square inch): satuan tekanan ban; SNI menyebut ketelitian pengukur tekanan ban dan tekanan ban tertentu.

9. Station wagon / Jeep 4 wheel drive / Pick up: tipe kendaraan yang disyaratkan/diizinkan untuk membawa alat NAASRA dan menjalankan survei.

—

C. Konsep Teknik: Apa yang Diukur oleh NAASRA dan Mengapa Harus Dikorelasikan ke IRI

1. Kerataan sebagai respons “kendaraan + permukaan”

Roughometer NAASRA pada praktiknya menangkap respons dinamis kendaraan akibat profil memanjang permukaan jalan. Respons ini:

  1. Dipengaruhi oleh kondisi suspensi (shock absorber, pegas),
  2. Tekanan ban,
  3. Beban kendaraan,
  4. Kecepatan,
  5. Jalur lintasan roda,

dan tentu profil permukaan.

Karena respons NAASRA sangat bergantung pada sistem kendaraan, SNI mewajibkan kalibrasi untuk mendapatkan grafik korelasi kendaraan+alat NAASRA terhadap nilai IRI.

2. Mengapa IRI dipakai sebagai “bahasa bersama”

IRI didefinisikan secara internasional berbasis profil jalan dan model respons kendaraan standar, sehingga bisa dibandingkan antar ruas, antar wilayah, dan antar waktu. Pedoman World Bank menjelaskan IRI sebagai indeks yang berbasis simulasi respons kendaraan pada kecepatan tertentu dan digunakan luas dalam manajemen jalan.

SNI mengadopsi pendekatan praktis: NAASRA tetap dipakai (alat lapangan), namun nilai akhirnya harus ditautkan (korelasi) ke IRI.

—

D. Ruang Lingkup Operasional SNI 03-3426-1994

1. Keluaran pekerjaan (output) yang diharapkan

  1. Standar ini menekankan:
  2. Cara pelaksanaan,
  3. Cengisian formulir,
  4. Pelaporan survei,
  5. Agar data kerataan menjadi masukan program pembinaan jaringan jalan.

2. Kondisi ruas yang layak disurvei

Hanya untuk jalan beraspal dan beton semen dengan kondisi rusak ringan (tidak berlubang), baik, dan baik sekali.

Implikasi teknik:

Jika banyak lubang/kerusakan berat, metode NAASRA menjadi kurang stabil dan hasil lebih “mencerminkan kejutan” daripada profil kerataan normal. Dalam kondisi tersebut, prioritas biasanya beralih ke survei distress dan penanganan struktural.

—

E. Persyaratan Personel dan Perencanaan Survei

1. Persyaratan perencanaan

Perencanaan pelaksanaan survei harus dibuat berdasarkan:

  1. Peta ruas jaringan jalan yang disurvei,
  2. Kemampuan survei setiap hari.

2. Persyaratan petugas

Survei dilakukan oleh:

  1. Seorang petugas survei dan seorang pengemudi.
  2. dan keduanya harus memahami pekerjaan survei yang akan dilaksanakan.

Catatan teknis: pembagian peran ini penting karena pembacaan alat NAASRA dan odometer harus sinkron, sementara pengemudi wajib menjaga kecepatan dan lintasan.

—

F. Peralatan, Kendaraan, dan Parameter Kondisi yang Wajib Dikunci

1. Daftar peralatan minimal

SNI menyebut peralatan/perlengkapan antara lain:

Kendaraan (station wagon; alternatif: jeep 4 wheel drive atau pick up tertutup),

Alat ukur kerataan NAASRA, dua beban masing-masing 50 kg yang diletakkan simetris di lantai kendaraan di atas sumbu roda belakang, odometer halus dan odometer kasar yang sudah dikalibrasi, Dipstick Floor Profiler, pengukur tekanan ban (ketelitian 0,5 psi), formulir survei.

2. Syarat kendaraan (kenapa ini krusial)

SNI menetapkan beberapa ketentuan kendaraan, misalnya: penggerak roda belakang, shock absorber harus heavy duty dan berfungsi baik, pegas harus keras dan tidak rusak, ban standar kondisi baik dengan tekanan 27 psi, pelek dari jenis/pabrik yang sama, ban harus seimbang, dan diberi tanda pasangan, komponen per/suspensi tidak boleh diganti; bila diganti harus kalibrasi ulang.

Makna teknis:

NAASRA “membaca” respons dinamis; perubahan shock absorber, ban, atau pelek akan mengubah respons dan merusak konsistensi data. Tekanan ban 27 psi menjadi control variable agar kekakuan ban konstan.

Beban 2×50 kg di atas sumbu roda belakang mengunci distribusi beban kendaraan sehingga respons suspensi relatif konsisten.

—

G. Persiapan Administratif dan Pemasangan Alat

1. Formulir dan titik referensi

SNI mengharuskan formulir diisi dengan: identitas, km dan pembacaan odometer berdasarkan data titik referensi, titik referensi bertanda cat diberi tanda khusus dalam formulir.

Secara teknis, ini mencegah “drift” lokasi data; hasil roughness harus bisa dipetakan ke kilometeran ruas agar bisa diprogramkan dalam pemeliharaan.

2. Pemasangan dan pemeriksaan alat NAASRA

Alat NAASRA harus dipasang sesuai instruksi operasi standar, dan penempatan pembaca NAASRA serta odometer harus memudahkan pembacaan hampir bersamaan.

Pemeriksaan meliputi kekencangan mur/baut, kondisi kabel, fleksibilitas selongsong kabel, kondisi rantai/roda gerigi dan pelumasan periodik, serta tegangan pegas alat.

—

H. Kalibrasi: “Jantung” dari Metode NAASRA dalam SNI 03-3426-1994

1. Prinsip kalibrasi yang ditetapkan SNI

Sebelum survei, harus dicari grafik korelasi kendaraan+NAASRA terhadap nilai IRI. Grafik korelasi diperoleh dengan membuat Seksi Percobaan (SP), mengukur profil dengan profiler, lalu menjalankan kendaraan survei untuk mencatat kerataan permukaan.

2. Penentuan Seksi Percobaan (SP)

Ketentuan SP antara lain:

SP dapat diambil pada ruas yang akan disurvei atau ruas lain, paling sedikit diperlukan 8 SP dari permukaan sangat rata sampai sangat tidak rata, panjang SP 300 m ditambah 50 m pada kedua ujungnya, diusahakan pada jalan lurus dan datar.

Makna teknik:

Minimal 8 SP memastikan korelasi tidak “bias” hanya pada kelas kerataan tertentu. Tambahan 50 m tiap ujung berfungsi sebagai run-in/run-out agar kendaraan stabil sebelum pembacaan di segmen inti.

3. Pengukuran profil memanjang SP (dengan Dipstick)

SNI mensyaratkan: titik awal dan akhir SP diberi tanda, ditarik garis kapur pada jarak 40–60 cm dari tepi perkerasan atau pada jalur jejak roda kiri luar, pengukuran profil memanjang mengikuti garis kapur dengan Dipstick Floor Profiler, dicatat perbedaan elevasi antar titik berurutan sampai titik akhir.

Teknis penting:

Jalur jejak roda dipilih karena paling representatif untuk respons kendaraan. Konsistensi jalur ukur menentukan konsistensi profil → menentukan konsistensi IRI yang menjadi referensi korelasi.

4. Pembacaan NAASRA pada SP

Ketentuan pembacaan pada SP mencakup: kecepatan kendaraan saat kalibrasi sekitar 30 km/jam, pembacaan dilakukan 5 kali pada lintasan yang sama dengan roda kiri mengikuti garis kapur, jika hasil 5 pembacaan berbeda jauh, kondisi kendaraan/peralatan harus diperiksa dan pembacaan diulang sampai stabil, hasil dicatat dan analisis korelasi dilakukan oleh petugas berpengalaman.

Makna teknik:

5 kali pengulangan adalah kontrol statistik sederhana untuk mengurangi noise. “Berbeda jauh” adalah red flag adanya gangguan mekanis, variasi lintasan, atau kecepatan yang tidak stabil.

—

I. Ketentuan Survei di Ruas Jalan (Pelaksanaan Produksi Data)

1. Prinsip lintasan dan ruas jalur pemisah

Dalam survei, untuk jalan dengan jalur pemisah, survei dilakukan pada kedua jalur masing-masing pada lajur yang diperkirakan memiliki angka kerataan lebih besar.

Interpretasi teknik: lajur lambat sering lebih rusak/lebih tidak rata akibat beban kendaraan berat, tetapi SNI mengarahkan memilih lajur yang paling kritis.

2. Koordinasi petugas–pengemudi via titik referensi

SNI mengatur mekanisme aba-aba petugas saat mendekati patok km/titik referensi, dan pengemudi memberi aba-aba saat roda depan mencapai patok/titik referensi.

Tujuannya: memastikan pembacaan kerataan benar-benar “terikat” pada lokasi kilometeran.

—

J. Cara Survei (Bab IV): Langkah Operasional Lapangan yang Wajib Dipatuhi

SNI merinci ikhwal pekerjaan sebagai berikut:

1. kalibrasi alat/kendaraan NAASRA sebelum survei sesuai ketentuan,

2. periksa kendaraan dan perlengkapan sesuai ketentuan peralatan,

3. jalankan kendaraan ± 10 menit untuk pemanasan hidrolik peredam kejut,

4. setel pembacaan alat NAASRA dan odometer ke posisi nol pada titik awal ruas,

5. jalankan kendaraan dengan kecepatan tetap sekitar 30 km/jam, berjalan pada jalur jejak roda kiri luar (penyimpangan hanya bila terpaksa untuk mendahului),

6. catat kerataan NAASRA setiap jarak 1 km, dari titik awal sampai titik akhir ruas.

Penjelasan teknik per langkah:

Pemanasan shock absorber: viskositas fluida dan respons redaman berubah saat dingin; pemanasan membuat respons stabil.

Reset nol: memastikan integrasi jarak/segmen (per 1 km) presisi. Kecepatan 30 km/jam: karena output alat bergantung kecepatan, maka kecepatan harus konstan.

Segmen 1 km: resolusi yang cukup untuk pemetaan prioritas penanganan pada skala jaringan.

—

K. Pelaporan Survei (Bab V): Menjaga Integritas Data sebagai Dokumen Teknik

SNI menyebut:

hasil survei dikelompokkan berdasarkan nomor ruas jalan dan berkas formulir dimasukkan dalam map tersendiri dengan identitas jelas, hasil survei harus ditandatangani petugas survei, setelah diperiksa, berkas diserahkan kepada pihak berkepentingan sesuai ketentuan berlaku.

Makna teknis: roughness data adalah asset management record; harus dapat diaudit, ditelusuri, dan dibandingkan antar tahun.

—

L. Pembahasan Teknis Lanjutan: Mengubah Data NAASRA menjadi Informasi Pemeliharaan yang “Siap Keputusan”

1. Dari pembacaan NAASRA ke IRI

Karena SNI mensyaratkan korelasi NAASRA terhadap IRI lewat SP, maka secara praktik langkahnya: hitung IRI SP berbasis profil Dipstick, ambil nilai NAASRA dari 5 kali lintasan pada SP, bentuk grafik/rumus korelasi, gunakan korelasi itu untuk mengonversi pembacaan NAASRA ruas menjadi estimasi IRI.

Catatan penting: korelasi ini spesifik pada:

  • Kendaraan,
  • Kondisi suspensi,
  • Kekanan ban,
  • Beban,
  • Pemasangan alat.

Perubahan salah satu variabel ini → korelasi harus diulang.

2. Mengapa “kerataan” harus dibaca bersama indikator kerusakan lain

Kerataan (roughness) adalah indikator fungsional. Namun keputusan penanganan yang tepat memerlukan kombinasi dengan: kerusakan permukaan (retak, alur, bleeding), kerusakan struktural (defleksi tinggi, pumping pada beton), drainase,Ndan riwayat lalu lintas. SNI 03-3426-1994 memang fokus pada metode survei kerataan; untuk keputusan desain overlay/rehab biasanya digabungkan dengan modul survei kondisi lainnya.

3. Kesalahan umum yang membuat data tidak “comparable”

Berikut sumber bias yang paling sering, sekaligus yang “dikunci” oleh SNI: tekanan ban tidak sesuai 27 psi, shock absorber/pegas berubah, beban 2×50 kg tidak dipasang simetris, kecepatan tidak konstan 30 km/jam, lintasan tidak konsisten (tidak pada jejak roda kiri luar), tidak melakukan pemanasan 10 menit, kalibrasi SP kurang (tidak memenuhi variasi sangat rata–sangat tidak rata atau kurang dari 8 SP), pembacaan tidak diikat ke patok km/titik referensi.

—

M. Penutup

SNI 03-3426-1994 memberikan prosedur lapangan yang sangat praktis namun ketat untuk memperoleh data kerataan yang seragam: mulai dari persyaratan kendaraan, pemasangan dan pemeriksaan alat, kalibrasi wajib terhadap IRI melalui Seksi Percobaan, sampai tata cara survei produksi per 1 km dengan kecepatan terkontrol sekitar 30 km/jam.

Dengan disiplin terhadap variabel-variabel kunci (suspensi, tekanan ban, beban, kecepatan, lintasan, dan korelasi), hasil survei NAASRA dapat menjadi dasar yang kuat untuk: pemetaan kualitas layanan jalan, penyusunan prioritas pemeliharaan, evaluasi keberhasilan penanganan dari tahun ke tahun.

Scroll to Top