SNI 2489:2018 – Metode Uji Stabilitas dan Pelelehan (Flow) Campuran Beraspal Panas dengan Alat Marshall

sni 2489 2018 – metode uji stabilitas dan pelelehan (flow) campuran beraspal panas dengan alat marshall

“Senjata laboratorium” untuk memastikan campuran hotmix kuat menahan deformasi plastis, stabil terhadap beban lalu lintas, dan konsisten mutunya dari AMP sampai hamparan.

 

A. SNI 2489:2018 adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) yang menetapkan metode uji stabilitas dan pelelehan (flow) campuran beraspal panas menggunakan alat Marshall. Judul resminya tercatat di portal PESTA BSN sebagai “Metode uji stabilitas dan pelelehan campuran beraspal panas dengan menggunakan alat Marshall”.

Standar ini juga ditegaskan sebagai revisi dari SNI lama (SNI 06-2489-1991) dan mengacu pada metode internasional seperti AASHTO T 245 serta ASTM D 5581. Dalam praktik pekerjaan jalan, SNI 2489:2018 bukan sekadar prosedur uji, melainkan “pintu gerbang” untuk:

  • perencanaan komposisi campuran (mix design) berbasis Marshall, dan pengendalian mutu (quality control/quality assurance) campuran beraspal panas di laboratorium serta di proyek.

Yang membuat SNI 2489:2018 sangat relevan untuk kondisi Indonesia: spesifikasi perkerasan jalan di Indonesia banyak memuat campuran beraspal panas dengan agregat maksimum sampai 37,5 mm (1,5 inci), sehingga uji Marshall perlu modifikasi dibanding Marshall konvensional 25,4 mm (1 inci).

Perbedaannya terutama pada ukuran mold (cetakan), ukuran penumbuk, dan jumlah tumbukan pemadatan.

—

B. Istilah & Singkatan Penting (ditulis lengkap dulu)

1. SNI (Standar Nasional Indonesia): standar teknis nasional yang ditetapkan oleh BSN.

2. BSN (Badan Standardisasi Nasional): lembaga yang menetapkan dan mengelola SNI.

3. Marshall (Marshall Method/Marshall Test): metode pengujian campuran beraspal panas untuk mengukur stabilitas dan flow menggunakan alat Marshall.

4. HMA (Hot Mix Asphalt / Campuran Beraspal Panas): campuran agregat–aspal yang diproduksi pada temperatur tinggi dan dipadatkan pada temperatur tertentu.

5. Stabilitas Marshall (Marshall Stability): kemampuan campuran beraspal menahan beban sampai terjadi kondisi maksimum (puncak beban) pada pengujian tekan Marshall.

6. Pelelehan / Flow (Marshall Flow): besaran deformasi (perubahan bentuk) benda uji pada saat mencapai beban maksimum pada uji Marshall.

7. MQ (Marshall Quotient / Kuosien Marshall): perbandingan stabilitas terhadap flow (indikasi kekakuan/ketahanan deformasi plastis campuran).

8. AMP (Asphalt Mixing Plant): instalasi pencampuran aspal panas (pabrik hotmix).

9. Mold (Cetakan Benda Uji Marshall): cetakan silinder untuk membentuk benda uji Marshall (ukuran mengikuti agregat maksimum).

10. Breaking Head (Kepala penekan Marshall): perangkat penekan yang memegang benda uji saat diuji tekan Marshall.

—

C. Ruang Lingkup dan “Nilai Praktis” SNI 2489:2018

1. Ruang lingkup pengujian

a. SNI 2489:2018 menetapkan tata cara uji stabilitas dan flow campuran beraspal panas dengan alat Marshall.
b. Standar ini mengakomodasi dua kelompok campuran berdasarkan ukuran agregat maksimum:

campuran dengan agregat maksimum 25,4 mm (1 inci), dan

campuran dengan agregat maksimum 37,5 mm (1,5 inci) yang memerlukan Marshall modifikasi.

2. Mengapa pengujian Marshall “inti” untuk perkerasan jalan

a. Pada perkerasan lentur (flexible pavement), kegagalan yang sering terjadi adalah:

  • alur (rutting) akibat deformasi plastis,
  • retak (cracking) akibat kelelahan dan tegangan termal,
  • pelepasan butir (raveling) akibat lemahnya ikatan aspal–agregat,
  • bleeding/flush akibat kadar aspal berlebih.

b. Uji Marshall fokus pada dua indikator yang sangat dekat dengan risiko rutting:

  • stabilitas: seberapa kuat campuran menahan beban sebelum kehilangan kestabilan,
  • flow: seberapa besar deformasi pada saat kondisi puncak beban tercapai.

c. Karena itu, Marshall sering menjadi “bahasa bersama” antara:

  • perencana campuran di laboratorium,
  • operator AMP,
  • pelaksana lapangan,
  • pengawas mutu.

3. Peran SNI 2489:2018 dalam sistem mutu proyek jalan

SNI ini bermanfaat bagi teknisi laboratorium, perencana, pelaksana, dan pengawas untuk perencanaan campuran dan pengendalian mutu campuran beraspal panas.

—

D. Konsep Teknik: Apa yang sebenarnya diukur oleh Stabilitas dan Flow

1. Stabilitas Marshall: indikator ketahanan terhadap deformasi plastis

a. Stabilitas yang tinggi umumnya menunjukkan:

  • struktur agregat saling mengunci (interlocking) baik,
  • kadar aspal cukup untuk mengikat tetapi tidak berlebihan,
  • gradasi dan proporsi filler mendukung kekuatan internal.

b. Namun stabilitas terlalu tinggi juga bisa menandakan campuran terlalu kaku (terutama jika flow sangat kecil), yang berpotensi:

lebih rentan retak pada temperatur rendah atau beban berulang.

2. Flow: indikator “kelenturan” dan potensi deformasi

a. Flow mencerminkan kemampuan campuran untuk mengalami deformasi tanpa langsung runtuh.
b. Flow terlalu besar sering terkait:

  • kadar aspal berlebih,
  • gradasi terlalu halus/kurang interlocking,
  • temperatur pemadatan/pencampuran yang kurang tepat, yang akhirnya meningkatkan risiko rutting.

3. Marshall Quotient (MQ): keseimbangan stabilitas–flow

a. MQ (stabilitas/flow) dipakai luas sebagai indikator:

  • campuran “kaku dan tahan alur” (MQ tinggi), atau
  • campuran “lunak” (MQ rendah).

b. Di praktik Bina Marga, parameter Marshall biasanya dibaca bersama parameter volumetrik (misalnya rongga udara dan VMA) pada tahap mix design dan kontrol mutu.

—

E. Peralatan dan Perbedaan Marshall Konvensional vs Marshall Modifikasi

SNI 2489:2018 menjelaskan bahwa perbedaan Marshall modifikasi terhadap Marshall konvensional terutama pada:

  • ukuran mold (cetakan),
  • ukuran penumbuk (hammer),
  • jumlah tumbukan pemadatan.

1. Komponen peralatan utama (secara fungsi)

a. Cetakan (mold) + collar + base plate: membentuk silinder benda uji dan menahan saat pemadatan.
b. Penumbuk/pemadat (hammer): memberi energi pemadatan melalui tumbukan berulang.
c. Ejector: mendorong benda uji keluar dari mold tanpa merusak sisi benda uji.
d. Bak perendam/penangas air (water bath): menjaga kondisi temperatur benda uji sebelum pengujian.
e. Kepala penekan (breaking head): dudukan/penjepit benda uji untuk menyalurkan beban tekan secara terstandar.
f. Mesin uji Marshall: memberi beban tekan dengan laju tertentu sambil mengukur beban maksimum dan deformasi (flow).

2. Mengapa modifikasi diperlukan untuk agregat maksimum 37,5 mm

Spesifikasi perkerasan jalan Indonesia memuat campuran dengan agregat maksimum 37,5 mm (1,5 inci), sedangkan Marshall yang “biasanya” dipakai pada standar lama mensyaratkan agregat maksimum 25,4 mm (1 inci). Karena itu uji Marshall konvensional perlu dimodifikasi agar representatif.

Secara teknik, jika agregat maksimum besar tetapi mold tetap kecil:

  • struktur agregat tidak terbentuk realistis,
  • segregasi dan “bridging” agregat bisa terjadi,
  • hasil stabilitas/flow menjadi bias (tidak mewakili campuran lapangan).

—

F. Persiapan Benda Uji: Titik Kritis yang Menentukan Kualitas Data

1. Prinsip umum

a. Benda uji Marshall harus merepresentasikan campuran yang akan diproduksi dan dihampar di lapangan, sehingga:

  • jenis agregat, gradasi, aspal, filler, dan aditif harus sama dengan rancangan,
  • temperatur pencampuran dan pemadatan mengikuti ketentuan (SNI memuat pedoman kekentalan/temperatur untuk pencampuran dan pemadatan).

b. Kesalahan di tahap persiapan akan menghasilkan data yang “rapi” tetapi salah secara teknik.

2. Penentuan kadar aspal uji (untuk rancangan campuran)

Dalam desain campuran metode Marshall, praktik umum adalah menyiapkan beberapa kadar aspal di sekitar perkiraan kadar optimum (misalnya 5 variasi) agar terlihat kurva hubungan:

  • stabilitas vs kadar aspal,
  • flow vs kadar aspal,
  • serta parameter volumetrik vs kadar aspal.

3. Pencampuran di laboratorium

a. Panaskan agregat dan aspal sampai temperatur kerja yang tepat (berdasarkan viskositas/ketentuan temperatur pencampuran–pemadatan).
b. Campur agregat + aspal sampai homogen (tidak boleh ada gumpalan filler, dan tidak boleh ada aspal “menggenang” di dasar mangkuk).

4. Pengisian mold dan pemadatan

a. Campuran dituangkan ke mold, dipasang collar, lalu dipadatkan dengan tumbukan standar.
b. Untuk campuran agregat maksimum 37,5 mm, SNI menyatakan ada perbedaan pada ukuran mold/hammer dan jumlah tumbukan (Marshall modifikasi).

Catatan teknis penting: energi pemadatan mempengaruhi densitas benda uji, yang pada gilirannya mempengaruhi stabilitas dan flow. Karena itu:

  • jumlah tumbukan harus konsisten,
  • tinggi/ketebalan benda uji harus berada pada toleransi,
  • massa campuran per benda uji harus terkendali.

—

G. Kondisioning dan Cara Pengujian: Mengontrol Variabel yang Paling Sensitif

1. Kondisioning temperatur

Benda uji Marshall umumnya dikondisikan pada temperatur tertentu sebelum diuji (praktik internasional Marshall memakai water bath untuk mencapai temperatur pengujian). Tujuan teknisnya:

  • memastikan viskoelastisitas aspal pada temperatur uji seragam,
  • mengurangi variabilitas hasil akibat beda temperatur inti benda uji.

2. Proses uji di mesin Marshall

a. Benda uji ditempatkan pada breaking head lalu diberi beban tekan sampai mencapai puncak, kemudian menurun.
b. Stabilitas Marshall adalah beban maksimum yang tercapai.
c. Flow adalah deformasi pada saat beban maksimum tercapai (dibaca pada flow meter).

3. Mengapa laju pembebanan harus dikontrol

Aspal bersifat viskoelastis; hasil uji sangat sensitif pada:

  • laju pembebanan,
  • temperatur,

dan kondisi perendaman.

Karena itu, disiplin prosedur adalah kunci agar hasil antar laboratorium dapat dibandingkan.

—

H. Pengolahan Hasil dan Interpretasi Teknis

SNI 2489:2018 memuat bagian “hasil pengujian” dan “laporan” serta menyediakan formulir uji Marshall.

1. Parameter utama yang wajib dilaporkan

a. Stabilitas (umumnya dalam satuan beban, sering ditulis kg atau kN sesuai sistem yang dipakai lab/proyek).
b. Flow (umumnya mm).
c. Identitas benda uji: kadar aspal, jenis campuran, ukuran agregat maksimum (konvensional/modifikasi), tanggal uji, suhu uji.

2. Parameter turunan yang lazim dipakai di proyek (untuk keputusan mutu)

Walau fokus SNI ini adalah stabilitas dan flow, dalam pekerjaan jalan di Indonesia hasil Marshall biasanya dibaca bersama:

  • densitas/berat jenis campuran,
  • rongga udara (air voids),
  • VMA (Voids in Mineral Aggregate / rongga dalam agregat mineral),
  • VFA (Voids Filled with Asphalt / rongga terisi aspal),
  • MQ (Marshall Quotient).

Tujuan teknisnya: memastikan campuran tidak hanya kuat (stabilitas), tetapi juga punya struktur rongga yang tepat untuk durabilitas dan ketahanan deformasi.

3. Cara membaca “kombinasi” stabilitas dan flow (panduan engineering judgement)

a. Stabilitas tinggi + flow terlalu kecil
→ campuran cenderung kaku; perlu evaluasi risiko retak, terutama di iklim tertentu atau pada lapisan yang mengalami regangan tarik tinggi.

b. Stabilitas sedang + flow dalam rentang baik
→ sering menjadi kondisi yang paling “seimbang” untuk lapis aus/lapis antara, tergantung spesifikasi.

c. Stabilitas rendah + flow besar
→ indikasi campuran terlalu lunak; berisiko rutting.

d. Stabilitas turun saat kadar aspal naik
→ sering terjadi setelah melewati kadar optimum; aspal berlebih mengurangi interlocking agregat.

—

I. Pengendalian Mutu Lapangan: Menghubungkan Data Marshall dengan Realitas Hamparan

1. Titik sambung Marshall dengan lapangan

  • Hasil Marshall dipakai untuk:
  • menetapkan rancangan campuran (Job Mix Formula / JMF),
  • memastikan produksi AMP konsisten,
  • mengevaluasi pengaruh variasi material (agregat baru, perubahan sumber, filler berbeda).

2. Variabel lapangan yang paling sering membuat hasil “bergeser”

a. Segregasi agregat saat loading/transport/hampar.
b. Temperatur turun karena waktu angkut panjang atau cuaca, sehingga densitas turun dan stabilitas/flow berubah.
c. Kadar aspal aktual melenceng akibat kalibrasi feeder/pompa aspal.
d. Kelembaban agregat yang tidak terkendali mempengaruhi foaming, coating, dan workability.

3. Mengapa SNI 2489:2018 penting bagi pengawas

  • Karena standar ini membantu membuat keputusan objektif:
  • menerima/menolak batch campuran,
  • menilai konsistensi produksi,
  • menginvestigasi penyebab rutting dini (apakah dari kadar aspal, gradasi, atau pemadatan).

—

J. Keunggulan SNI 2489:2018 dibanding pendekatan lama

SNI 2489:2018 menegaskan sebagai revisi SNI lama dan menyempurnakan cakupan agar mendukung pengujian campuran dengan agregat maksimum hingga 37,5 mm, serta mengacu pada rujukan internasional AASHTO dan ASTM.

Implikasi manfaatnya:

1. Lebih relevan dengan spesifikasi perkerasan Indonesia yang memuat agregat maksimum 37,5 mm.

2. Lebih konsisten secara metodologis karena mengadopsi referensi internasional.

3. Lebih siap untuk audit mutu karena menyediakan struktur pelaporan dan formulir uji.

—

K. Format Laporan yang Profesional (praktik yang direkomendasikan)

Agar tidak sekadar “angka stabilitas dan flow”, laporan uji Marshall yang baik biasanya memuat:

1. Identitas sampel

  • jenis campuran (AC-WC/AC-BC/HRS/porous, dsb sesuai spesifikasi proyek),
  • sumber agregat, jenis aspal, aditif (jika ada),
  • ukuran agregat maksimum (25,4 mm atau 37,5 mm).

2. Parameter proses

  • temperatur pencampuran dan pemadatan (mengacu pedoman kekentalan/ketentuan dalam standar).
  • jumlah tumbukan pemadatan (konvensional atau modifikasi).

3. Hasil utama

  • stabilitas, flow, rerata dan deviasi (minimal dari beberapa benda uji per kadar aspal).

4. Kesimpulan teknis

Apakah hasil memenuhi kriteria spesifikasi proyek, catatan anomali (mis. benda uji retak prematur, segregasi, keropos), rekomendasi tindakan (kalibrasi AMP, koreksi gradasi, koreksi kadar aspal, koreksi temperatur/pemadatan).

—

L. Penutup

SNI 2489:2018 adalah standar uji yang sangat “inti” untuk dunia perkerasan jalan di Indonesia karena mengukur dua indikator mekanistik yang dekat dengan performa lapangan: stabilitas (ketahanan terhadap deformasi plastis) dan flow (deformasi pada kondisi puncak beban).

Standar ini juga dirancang agar cocok dengan realitas campuran Indonesia yang dapat memakai agregat maksimum hingga 37,5 mm, sehingga mengatur Marshall modifikasi dengan perbedaan pada mold, penumbuk, dan jumlah tumbukan.

Jika SNI pembebanan dan gempa memastikan struktur “benar menghitung gaya”, maka SNI 2489:2018 memastikan hotmix “benar secara performa”: kuat, tidak mudah mengalir plastis, dan konsisten mutunya dari laboratorium hingga hamparan.

Scroll to Top