Standar mutakhir untuk memastikan terowongan dan struktur bawah tanah tetap stabil, aman, dan fungsional ketika gempa terjadi.
A. Pendahuluan: Mengapa SNI 9366:2025 Sangat Strategis
Indonesia berada pada kawasan cincin api (Ring of Fire) dengan aktivitas seismik tinggi. Pembangunan terowongan jalan, terowongan kereta, underpass, subway, box bawah tanah, serta struktur bawah tanah lainnya terus meningkat seiring kebutuhan konektivitas dan keterbatasan ruang di kawasan perkotaan maupun medan berat.
Berbeda dengan struktur atas (jembatan atau gedung), terowongan dan struktur bawah tanah memiliki karakteristik khusus:
- berada dalam media tanah atau batuan,
- menerima beban dominan dari massa tanah sekeliling, bukan hanya berat sendiri,
- respon gempa tidak identik dengan struktur di permukaan,
- kegagalannya sering bersifat global dan sulit diperbaiki.
Atas dasar itulah lahir SNI 9366:2025 – Perancangan Terowongan dan Struktur Bawah Tanah Tahan Gempa, sebagai standar khusus dan mutakhir yang melengkapi:
- standar gempa umum,
- standar geoteknik,
- serta standar struktur beton/baja.
SNI ini menegaskan bahwa ketahanan gempa terowongan tidak cukup hanya “ikut” standar gempa gedung, melainkan memerlukan pendekatan teknik tersendiri.
—
B. Istilah dan Singkatan Penting (Ditulis Lengkap di Awal)
1. SNI (Standar Nasional Indonesia)
- Standar teknis nasional yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional.
2. BSN (Badan Standardisasi Nasional)
- Lembaga pemerintah yang bertanggung jawab atas pengembangan dan penetapan SNI.
3. Terowongan (Tunnel)
- Struktur bawah tanah berbentuk lorong memanjang yang menembus tanah atau batuan untuk lalu lintas, utilitas, atau fungsi lainnya.
4. Struktur Bawah Tanah (Underground Structure)
- Semua struktur yang sebagian atau seluruhnya berada di bawah permukaan tanah, termasuk underpass, basement, box culvert besar, dan stasiun bawah tanah.
5. Gempa Bumi (Earthquake)
- Getaran tanah akibat pelepasan energi di kerak bumi yang menghasilkan gelombang seismik.
6. Ground Motion (Gerakan Tanah)
- Pergerakan tanah akibat gempa yang mempengaruhi struktur.
7. Deformasi Tanah (Ground Deformation)
- Perubahan bentuk tanah/batuan akibat gempa, termasuk regangan geser dan pergeseran permanen.
8. Lining Terowongan (Tunnel Lining)
- Lapisan struktur (beton bertulang, beton pracetak, baja, atau kombinasi) yang melapisi terowongan untuk menahan tekanan tanah dan air.
9. Ground–Structure Interaction (Interaksi Tanah–Struktur)
- Hubungan timbal balik antara respon tanah dan respon struktur.
10. ULS (Ultimate Limit State / Keadaan Batas Ultimit)
- Kondisi batas yang berkaitan dengan keselamatan dan potensi keruntuhan.
11. SLS (Serviceability Limit State / Keadaan Batas Layan)
- Kondisi batas yang berkaitan dengan fungsi, deformasi, dan kenyamanan operasi.
12. Seismic Racking Deformation
Deformasi distorsi terowongan akibat regangan geser tanah selama gempa.
—
C. Ruang Lingkup dan Posisi SNI 9366:2025
1. Ruang Lingkup Teknis
SNI 9366:2025 mengatur perancangan tahan gempa untuk:
- terowongan jalan dan kereta,
- terowongan utilitas,
- underpass dan box bawah tanah,
- stasiun bawah tanah,
- struktur pelengkap terowongan (shaft, cross passage, portal).
Standar ini mencakup:
- prinsip desain,
- kriteria kinerja,
- metode analisis gempa,
- ketentuan detailing struktur,
- integrasi dengan kondisi geoteknik.
2. Posisi dalam Hirarki Standar
SNI 9366:2025 tidak berdiri sendiri, melainkan:
- menggunakan parameter bahaya gempa dari standar gempa nasional,
- menggunakan parameter tanah dari standar geoteknik,
- menggunakan kaidah beton/baja dari standar struktur.
Namun, SNI 9366:2025 memberikan aturan khusus yang hanya relevan untuk struktur bawah tanah dan tidak dijumpai pada standar gedung.
—
D. Filosofi Dasar: Perilaku Terowongan terhadap Gempa
1. Perbedaan Mendasar dengan Struktur Permukaan
Pada struktur permukaan:
- gaya gempa dominan berupa inersia massa struktur.
Pada terowongan:
- gaya gempa dominan berasal dari deformasi tanah di sekeliling terowongan.
Artinya:
- Terowongan tidak “diguncang” seperti gedung, melainkan dipaksa mengikuti gerakan tanah.
2. Konsekuensi Filosofi Desain
SNI 9366:2025 menekankan bahwa:
- terowongan tidak perlu didesain sangat kaku,
- tetapi harus cukup daktail untuk mengikuti deformasi tanah tanpa runtuh,
- fokus desain ada pada kompatibilitas deformasi, bukan hanya kekuatan material.
—
E. Klasifikasi Terowongan dan Tingkat Kinerja
1. Klasifikasi Berdasarkan Fungsi
- terowongan transportasi utama (jalan tol, MRT),
- terowongan sekunder (utilitas, servis),
- underpass perkotaan.
2. Tingkat Kinerja Gempa
SNI 9366:2025 membedakan kinerja berdasarkan tingkat gempa:
1. Gempa Layanan (Operational / Service Level Earthquake)
- Struktur tetap berfungsi,
- kerusakan sangat minimal.
2. Gempa Rencana (Design Level Earthquake)
- Kerusakan diperbolehkan,
- tidak terjadi keruntuhan,
- fungsi utama dapat dipulihkan.
3. Gempa Ekstrem
- Struktur tidak runtuh total,
- keselamatan jiwa terjaga,
- perbaikan mungkin besar.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa desain terowongan bersifat performance-based, bukan sekadar lulus/tidak lulus.
—
F. Parameter Gempa dan Deformasi Tanah
1. Gerakan Tanah sebagai Input Utama
SNI 9366:2025 menegaskan bahwa input utama analisis gempa terowongan adalah:
- regangan geser tanah,
- deformasi lateral tanah,
- pergeseran permanen (jika ada).
2. Pengaruh Kondisi Tanah
- Tanah lunak → deformasi besar → tuntutan deformasi lining tinggi
- Batuan keras → deformasi kecil → gaya internal lining meningkat
Oleh karena itu, investigasi geoteknik menjadi fondasi utama desain gempa terowongan.
—
G. Mekanisme Respon Terowongan terhadap Gempa
1. Racking Deformation
- Terjadi akibat regangan geser tanah,
- Mengubah bentuk penampang terowongan dari lingkaran menjadi oval atau jajaran genjang,
- Menjadi mekanisme kritis pada terowongan dangkal.
2. Axial Deformation
- Terjadi akibat gelombang gempa sejajar sumbu terowongan,
- Menyebabkan tarik–tekan memanjang pada lining.
3. Bending dan Shear pada Lining
- Kombinasi tekanan tanah dinamis dan deformasi tanah,
- Menentukan kebutuhan tulangan lentur dan geser.
—
H. Metode Analisis dalam SNI 9366:2025
1. Metode Kuasi-Statis
- Mengubah efek gempa menjadi deformasi tanah ekuivalen,
- Cocok untuk desain awal dan terowongan sederhana.
2. Metode Analisis Dinamik
- Analisis Respons Spektrum
- Analisis Riwayat Waktu (Time History Analysis)
Digunakan untuk:
- terowongan penting,
- kondisi tanah kompleks,
- kedekatan dengan sesar aktif.
3. Pemodelan Interaksi Tanah–Struktur
SNI 9366:2025 menekankan:
- pemodelan kekakuan tanah yang realistis,
- penggunaan pegas tanah (soil springs) atau model kontinu,
- verifikasi asumsi melalui sensitivitas analisis.
—
I. Perancangan Lining Terowongan
1. Jenis Lining
- Beton bertulang cor di tempat,
- Beton pracetak segmental,
- Baja atau kombinasi.
2. Aspek Teknis Utama
- kapasitas lentur dan aksial,
- kontrol retak,
- daktilitas penampang,
- sambungan antar segmen (joint).
3. Sambungan Segmental
Pada terowongan pracetak:
- sambungan menjadi titik kritis gempa,
- harus mampu berotasi dan bergeser terbatas tanpa kehilangan integritas.
—
J. Pengaruh Air Tanah dan Tekanan Pori
SNI 9366:2025 mengingatkan bahwa:
- gempa dapat meningkatkan tekanan air pori,
- potensi likuifaksi harus dianalisis,
- tekanan air dinamis dapat memperbesar tuntutan pada lining.
Sistem drainase dan waterproofing menjadi bagian integral desain tahan gempa, bukan sekadar elemen arsitektural.
—
K. Detailing dan Daktilitas
1. Prinsip Daktilitas
- Lining harus mampu mengalami deformasi inelastik terbatas,
- Retak diperbolehkan, runtuh tidak.
2. Detailing Tulangan
- tulangan memanjang dan melingkar harus kontinu,
- jarak dan pengekangan tulangan ditingkatkan di zona kritis,
- ketentuan beton struktural tetap dipatuhi tetapi disesuaikan karakter terowongan.
—
L. Konstruksi, Monitoring, dan Metode Observasi
1. Pengaruh Metode Konstruksi
Metode seperti:
- NATM (New Austrian Tunnelling Method),
- TBM (Tunnel Boring Machine),
- sangat mempengaruhi respon gempa terowongan.
2. Monitoring
SNI 9366:2025 mendorong:
- instrumentasi deformasi,
- monitoring pascagempa,
- penerapan observational method.
—
M. Kesalahan Umum dalam Desain Terowongan Gempa
1. Menggunakan standar gedung tanpa modifikasi
2. Mengabaikan deformasi tanah
3. Terlalu mengandalkan kekuatan lining
4. Tidak mengevaluasi sambungan pracetak
5. Mengabaikan air tanah dan likuifaksi
SNI 9366:2025 hadir untuk menutup celah-celah kesalahan ini.
—
N. Penutup: Makna Strategis SNI 9366:2025
SNI 9366:2025 adalah tonggak penting dalam pengembangan infrastruktur bawah tanah Indonesia. Standar ini menegaskan bahwa:
ketahanan gempa terowongan adalah masalah geoteknik–struktur terpadu, keselamatan dicapai melalui kompatibilitas deformasi, bukan kekakuan berlebihan, desain harus berbasis kinerja dan risiko, bukan sekadar kekuatan nominal.
Dengan menerapkan SNI 9366:2025 secara disiplin, Indonesia tidak hanya membangun terowongan yang “berdiri”, tetapi terowongan yang tetap aman dan berfungsi setelah gempa besar.
SNI 9366:2025 adalah jembatan keandalan antara tanah, struktur, dan keselamatan publik.
